| Tak ada yang tau apa yang terjadi dibalik Tsunami di Jepang, Jum'at 11 Maret 2011. Muncul Teori yang berkembang dan sejumlah pihak mencoba mengaitkan tentang tiga hal |
wartapedia - Teori pertama pernyebab gempa adalah, uji coba rudal nuklir yang dilakukan oleh negara di semenanjung Korea. Hulu ledak nuklir yang menghantam lautan tentu bisa menyebabkan gempa dan berakibat tsunami.
Sebuah Teori Konspirasi menyebutkan rudal Taepodong Korea Utara tidak dapat mencapai pantai barat Amerika Serikat, namun jika saat dilakukan pengujian, rudal tersebut dapat saja mengenai Hawaii.
Sejumlah analis Jepang pernah melontarkan statemen bahwa Korea Utara berencana untuk menggunakan rudal nuklir itu untuk menghilangkan 17% PDB Amerika Serikat hanya dalam waktu sekejap, bukan oleh serangan langsung melainkan oleh serangan ke Hawaii yang dapat menyebabkan tanah longsor cukup besar untuk membuat radioaktif Tsunami.
Serangan Tsunami memberikan beberapa keuntungan bagi para ilmuwan Korea Utara. Pertama, letak Hawaii lebih dekat dengan Korea Utara sehingga teknologi untuk mendapatkan rudal cukup memadai, ketimbang harus mencapai Silikon Vally
Perjalanan Rudal yang menempuh jarak jauh akan memakan konsumsi bahan bakar lebih dan tentunya akan membuat rudal menjadi lebih besar.
Teori konspirasi ini cukup bisa diterima sebab dengan kekuatan 12 megaton saja, bom nuklir sudah cukup untuk membuat serangan tsunami. Pertanyaannya, Bagaimana jika uji coba tersebut diarahkan ke pasifik dan berpotensi membuat tsunami di Hawai? apakah Amerika Serikat akan diam-diam saja?
Negara adidaya itu memiliki Ground Based Interceptor (GBI), sebuah pusat pemantauan rudal yang berbasis di Vandenberg AFB, California. Jika terjadi ancaman terhadap negaranya, maka GBI akan menghajarnya sebelum mencapai sasaran.
Sebuah Teori Konspirasi menyebutkan rudal Taepodong Korea Utara tidak dapat mencapai pantai barat Amerika Serikat, namun jika saat dilakukan pengujian, rudal tersebut dapat saja mengenai Hawaii.
Sejumlah analis Jepang pernah melontarkan statemen bahwa Korea Utara berencana untuk menggunakan rudal nuklir itu untuk menghilangkan 17% PDB Amerika Serikat hanya dalam waktu sekejap, bukan oleh serangan langsung melainkan oleh serangan ke Hawaii yang dapat menyebabkan tanah longsor cukup besar untuk membuat radioaktif Tsunami.
Serangan Tsunami memberikan beberapa keuntungan bagi para ilmuwan Korea Utara. Pertama, letak Hawaii lebih dekat dengan Korea Utara sehingga teknologi untuk mendapatkan rudal cukup memadai, ketimbang harus mencapai Silikon Vally
Perjalanan Rudal yang menempuh jarak jauh akan memakan konsumsi bahan bakar lebih dan tentunya akan membuat rudal menjadi lebih besar.
Teori konspirasi ini cukup bisa diterima sebab dengan kekuatan 12 megaton saja, bom nuklir sudah cukup untuk membuat serangan tsunami. Pertanyaannya, Bagaimana jika uji coba tersebut diarahkan ke pasifik dan berpotensi membuat tsunami di Hawai? apakah Amerika Serikat akan diam-diam saja?
Negara adidaya itu memiliki Ground Based Interceptor (GBI), sebuah pusat pemantauan rudal yang berbasis di Vandenberg AFB, California. Jika terjadi ancaman terhadap negaranya, maka GBI akan menghajarnya sebelum mencapai sasaran.
Korea Utara bisa saja melakukan ujicoba nuklir secara diam-diam. Rudal nuklir ini gagal mencapai target, hancur ditengah jalan dan berakibat gempa yang menimbulkan Tsunami. Teori konspirasi ini belum bisa dibuktikan, karena hal ini merupakan ranah intelijen.
Analisa kedua adalah menggunakan teori lempeng Tektonik. Teori Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga kini teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra.
Gempa yang disusul Tsunami di Jepang ini disebabkan benturan lempeng tektonik yang disebut Subduksi. Benturan ini terjadi antara lempeng samudra dengan lempeng benua.
Gempa yang disusul Tsunami di Jepang ini disebabkan benturan lempeng tektonik yang disebut Subduksi. Benturan ini terjadi antara lempeng samudra dengan lempeng benua.
Subduksi di Jepang terjadi karena penghunjaman lempeng pasifik di bawah negara. Teori ini sangat bisa diterima karena posisi Jepang dikenal sangat rawan dengan gempa.
Analisa Ketiga, menggunakan teori Gaya Tarik Bulan. Teori ini mencoba mengaitkan dengan fenomena supermoon yang akan terjadi pada 19 Maret 2011. Fenomena Supermoon adalah posisi bulan yang berada dekat dengan bumi.
Analisa Ketiga, menggunakan teori Gaya Tarik Bulan. Teori ini mencoba mengaitkan dengan fenomena supermoon yang akan terjadi pada 19 Maret 2011. Fenomena Supermoon adalah posisi bulan yang berada dekat dengan bumi.
Sejarah pernah mencatat bencana di Bumi terjadi saat fenomena lunar perigee, Misalnya, badai di New England 1938, banjir di Lembah Hunter tahun 1955, Bencana Siklon Tracy di tahun 1974, serta badai Katrina di 2005 diyakini juga terkait Fenomena SuperMoon.
Namun, lagi-lagi penganut Teori Moonageddon kembali dibantah oleh para ilmuwan. seperti dilansir The Telegraph, ilmuwan ini menyatakan tidak punya bukti bahwa Supermoon bisa memicu bencana alam. Kalaupun kehadiran Supermoon memberi efek terhadap bumi,itu hanyalah air pasang yang lebih tinggi atau air surut yang lebih rendah dari biasanya.
Read more: Tiga Teori Penyebab Gempa di Jepang

No comments:
Post a Comment